Sabtu, 23 Juni 2012

Soal dan Jawaban UAS Semantik


TAKE HOME TEST  SEMANTIK
SOAL DAN JAWABAN UAS GENAP
MATA KULIAH SEMANTIK

SOAL
1.      Dari beberapa sumber kita dapati berbagai istilah untuk menamakan jenis atau tipe makna. Secara alfabetis Mansoer Pateda (2010) telah menggolongkan 29 jenis makna, Leech (1976) membedakan 7 tipe makna, I Dewa Putu Wijana (2011) membagi 8 jenis makna, Abdul Chaer (2009) menggolongkan 16 jenia makna, dan Fatimah Djajasudarma (2009) menggolongkan 14 jenia makna. Bagaimana apresiasi saudara terhadap pendapat para ahli diatas. Jelaskan secara komprehensif ! berilah contoh!
2.      Zgusta dan Ullman berpendapat bahwa tidak ada dua kata atau lebih yang memiliki makna sama secara mutlak. Senada dengan berpendapat di atas. Bloomfieid menandaskan bahwa setiap bentuk kebahasaan yang memiliki struktur fonemis yang berbeda dapat dipastikan memiliki makna yang berbeda betapa pun kecilnya. Jika demikian, mengapa ada konsep sinonim? Jelaskan komprehensif ! berilah contoh!
3.      Menurut Harimurti (1982), medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantic bahasa yang menggambarkan bagian dari kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsure leksikal yang maknanya berhubungan. Kata atau unsure leksikal yang maknanya berhubungan dalam bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain karena berkaitan erat dengan kemajuan atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Jelaskan pernyataannya tersebut ! berilah contoh !
4.      Bahasa terus berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran penutur bahasa. Djajasudarma (2009) berpendapat bahwa perkembangan bahasa akan diiringi perkembangan makna yang mencakup perubahan makna dan pergeseran makna. Menurut Edi Subroto (2011), perubahan makna ada yang diakronik dan sinkronik. Jelaskan pendapat kedua tokoh di atas ! berilah contoh !



JAWABAN
1.      Jenis makna
            Menurut saya setiap pendapat para tokoh-tokoh memang mempunyai kelebihan sendiri-sendiri, yang pertama Mansoer Pateda itu menggolongkan 29 jenis makna, dan menurut saya bahwa beliau sangat kompleksitas. Yang kedua Abdul Chear  menggolongkan 16 jenis makna, ada yang mempunyai kesamaan jenis makana dan ada sebagian yang tidak sama seperti kata, istilah, idiom dan peribahasa, dan kekhususannya beliau dalam EYD bahasa Indonesia. Yang ketiga Dewa Putu Wijana yang menggolongkan 8 jenis makna, ada yang mempunyai kesamaan jenis makana dan ada sebagian yang tidak sama seperti seperti literal, figurative, primer, dan sekunder. Yang keempat Leech yang menggolongkan 7 jenis makna, ada yang mempunyai kesamaan jenis makana dan ada sebagian yang tidak sama seperti tematik, kolokatif, dan reflektif. Yang kelima Fatimah Djajasudarma menggolongkan 14 jenis makna, ada yang mempunyai kesamaan jenis makana dan ada sebagian yang tidak sama seperti idiom, dan pictorial.
            Kesimpulannya bahwa kelima tokoh diatas sama-sama mengkaji jenis makna, akan tetapi hanya jenis makna konotatif ini yang sama semua mengkaji jenis makna ini. Makna konotatif adalah Adalah makna semua komponen pada kata ditambah beberapa nilai mendasar yang biasannya berfungsi menandai. Contoh: kata pembantu dan budak, “pembatu” adalah pelayan yang melayani pekerjaan rumah tangga yang dibayar dan kata tersebut dipakai pada zaman sekarang, sedangkan “budak” adalah pelayan yang melayani para raja-raja yang tidak dibayar dan kata ini dipakai pada zaman nabi.
2.      Mengapa ada konsep sinonim
Menurut saya, kita kembalikan pada pengertian dari sinonim itu sendiri. Sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno: onoma = nama dan syn = dengan. Jadi makna harfiyahnya adalah nama lain untuk benda yang sama.dan mengapa ada sinonin itu juga dikarenakan ada beberapa faktor: yang pertama, faktor waktu. Kedua, faktor tempat atau wilayah sepeti kata “gua” dan “kulo”, kata “gua” itu digunakan orang-orang yang gaul, akan tetapi kata “kulo” itu digunakan bagi orang-orang desa, kata kedua tersebut sama-sama bersinonim faktor yang tempat. Ketiga, faktor keformalan seperti kata “loe” dan “kamu”, kata loe itu tidak formal karena bukan bahasa Indonesia yang baku, yang benar dan baku adalah kata kamu. Keempat, faktor sosial seperti kata “ kamu” dan “dia” kedua kata sama bersinonim, tetapi kata “kamu” menunjukkan orang yang ada disebelah orang yang menunjuk, tapi kata “dia” yang ditunjuk tidak ada disebelah orang yang menunjuk. Kelima, faktor bidang kegiatan. Dan keenam, faktor nuansa makna seperti kata “memukul” dan “metinju” kedua kata bersinonim, kata “memukul” bisa memukul hewan atau manusia, tetapi kata “metinju’ pantas dalam olahraga tinju.

3.      Medan makna
            Semantik  bahasa yang menggambarkan bagian dari kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisaasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Kata atau lesem dijadikan satu kelompok medan makna, dan terbagi medan kolokasi dan medan set. Kolokasi menunjukkan pada hubungan sintagmatik adalah hubungan antara unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan, yang tersusun secara berurutan, bersifat linear, contoh: kasur, bantal guling, buffet, lemari, kamar mandi, ber-ac, semua yaitu berkenaan dengan kamar tidur,  sedangkan set menunjukkan pada hubungan paradigmatik karena bisa saling disubtitusikan, hubungan paradigmatik adalah hubungan unsur-unsur yang terdapat dalam suatu tuturan dengan unsur-unsur sejenis yang tidak terdapat dalam tuturan yang bersangkutan, contoh: kata hewan merupakan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan, ada yang jantan dan betina. Kata pusing merupakan kedaan sakit yang biasanya diderita oleh manusia.
4.      Pendapat Djajasudarman (2009)
Bahwa perkembangan bahasa akan diiringi dengan perkembangan makna yang mencakup perubahan dan pergeseran makna. Manusialah yang menggunakan kata dan kalimat itu dan manusia pula yang menambah kosa kata yang sesuai dengan kebutuhannya. Karena pemikiran manusia selalku berkembang, maka pemakaian kata dan kalimat berkembang juga. Sehingga makna mengalami perubahan dan pergeseran dikarenakan akibat yang pertama dari lingkungan masyarakat seperti kata hias dilingkungan toko bunga dihubungkan menghias bunga sedangakn dilingkungan salon dihubungkan penata rias pengantin. Yang kedua akibat pertukaran tanggapan indera,indra manusia bermacam-macam seperti indra ciuman seperti kata wangi, indra pendengar seperti kata merdu, dll. Yang ketiga akibat perkembangan dalam bidang ilmu dan teknologi seperti kata bersepeda, dengan seiring berkembangnya teknologi sekarang sepeda sedikit sekali yang menggunakan apalagi berada di kota-kota besar sehingga sekarang sudah tercipta sepeda aki yang hanya digas dengan mengandalkan aki langsung bisa berjalan tanpa harus mengayuh dan tidak polusi, ada juga mobil dengan kekuatan surya. Yang keempat akibat asosiasi contoh kata lapangan makna asosiasi adalah tempat untuk olahraga atau bermain.
Pendapat Edi Subroto (2011)
Perubahan makna yang diakronik adalah perubahan arti dalam suatu bahasa dalam perjalanan bahasa itu dari waktu ke waktu, contoh kata duit dulu berarti ‘mata uang dari tembaga’ sekarang berarti ‘alat pembayaran yang sah’ dan dahulu berbentuk koin tapi sekarang koin malah dibuang-buang karena nilai harganya kecil sehingga banyak yang beralih ke uang kertas. Dan sinkronik adalah mempelajari suatu bahasa pada suatu kurun waktu tertentu saja, contoh kata menyempret secara sinkronis “ mobil itu hampir menyempret motor yang berjalan”.



Tugas ini saya buat dengan semampu saya, jika ada kekurangan atau kesalahan mohon maaf. Dan mohon bantuan di jawabankan jika ada yang salah. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Chear, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Peteda, Mansoer. - Ed.2 -. 2010. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.
Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik 2. Pemahaman ilmu makna. Bandung: Refika Aditama.
Wijana, Dewa Putu. 2008. Semantik teori dan analisis. Surakarta: Yuma Pustaka


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar